Select Page

Step 1. Place your order

Fill in the order form and provide all details of your assignment.

Step 2. Make Payment

Choose the payment system that suits you most.

Step 3. Receive your paper

Once your paper is ready, we will email it to you.

Diharapkan dapat digunakan oleh tenaga kesehatan sebagai alat skrining deteksi dini terhadap gangguan tidur yang dialami anak remaja.

by | Sep 23, 2022 | International and Public Relations | 0 comments

Get Help With Your Essay

"Place your order now for a similar assignment and have exceptional work written by our team of experts, guaranteeing you A results."

For This or a Similar Paper Click To Order Now

 

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tidur merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia dan memegang
peranan penting dalam perkembangan anak. Tidur tidak hanya berdampak
pada perkembangan fisik maupun emosional, namun juga sangat erat
hubungannya dengan fungsi kognitif, pembelajaran, dan atensi (Liu et al.,
2005). Pada kondisi istirahat dan tidur ini memberikan fungsi homeostatik
bagi tubuh yang bersifat menyegarkan dan sangat penting untuk termoregulasi
normal dan penyimpanan energi (Kaplan dan Sadock, 2015).
Pola tidur yang baik dan teratur dapat memberikan efek yang bagus
terhadap kesehatan (Guyton dan Hall, 2012). Perubahan pola tidur umumnya
disebabkan oleh tuntutan aktifitas sehari-hari yang menyebabkan
berkurangnya kebutuhan untuk tidur, hal ini menyebabkan sering mengantuk
yang berlebihan pada siang harinya (Potter dan Perry, 2005).
Kebutuhan tidur setiap orang berbeda-beda. Banyak orang dengan
penidur panjang (long-sleeper) yang memerlukan waktu tidur 9 hingga 10 jam
pada malam hari sedangkan yang lain adalah penidur pendek (short-sleeper)
yang hanya membutuhkan tidur kurang dari 6 jam setiap malam. Lama tidur
tidak selalu berhubungan dengan gangguan tidur (Kaplan dan Sadock, 2015).
Gangguan tidur didefinisikan sebagai pola tidur yang tidak
memuaskan bagi orang tua, anak atau dokter yang dicirikan dengan gangguan
dalam jumlah, kualitas atau waktu tidur pada seorang individu (Sadeh et al.,
2000). Gangguan tidur yang umum pada masa kanak-kanak dan remaja, dan
berkaitan dengan neurokognitif dan gangguan psikososial serta peningkatan
beban pengasuh (Moturi and Avis, 2010). Diagnosis gangguan tidur sulit
ditegakkan, hal ini disebabkan oleh perbedaan pola tidur pada setiap tahap
perkembangan anak dan toleransi keluarga terhadap perilaku tidur anak sangat
bervariasi ( Thiedke, 2001).
National Institute of Health menyimpulkan bahwa kelompok yang
berisiko tinggi mengalami gangguan tidur adalah remaja. Hal ini terbukti
karena pada remaja terjadi perubahan dramatis dalam pola tidur-bangun
meliputi durasi tidur yang kurang, waktu tidur yang tertunda, dan adanya
perbedaan pola tidur pada hari kerja dan akhir pekan, maka kualitas tidur
remaja cenderung berkurang (Haryono et al., 2009).
Dibandingkan tahap usia lainnya pola tidur remaja juga berbeda karena
pada tahapan tumbuh kembang ini terjadi perubahan hormonal dan pergeseran
irama sirkadian. Hal tersebut menyebabkan remaja mulai mengantuk pada
tengah malam sedangkan dipagi hari mereka harus bangun untuk berangkat ke
sekolah (Tagaya et al., 2004).
Prevalensi gangguan tidur pada remaja dari berbagai penelitian
menunjukkan hasil yang bervariasi. Liu dkk mendapatkan 21,2 % anak usia 2-
12 tahun di Beijing mengalami gangguan tidur (Liu et al., 2010). Penelitian
Ohida dkk di Jepang terhadap siswa SLTP dan SLTA menunjukkan prevalensi
gangguan tidur pada remaja bervariasi mulai dari 15,3% hingga 39,2%
bergantung pada jenis gangguan tidur yang dialami (Ohida et al., 2004).
Penelitian oleh Bruni dkk mengenai gangguan tidur pada remaja
menggunakan Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC) mendapatkan
prevalensi gangguan tidur adalah 44,21% dimana jenis gangguan tidur yang
sering ditemukan adalah gangguan memulai dan mempertahankan tidur (
Bruni et al., 1996). Penelitian di Indonesia yang dilakukan oleh Haryono dkk
pada murid sekolah menengah pertama berusia 12-15 tahun di Jakarta Timur
didapatkan prevalensi gangguan tidur sebesar 62,9% dengan menggunakan
SDSC, dimana jenis gangguan tidur yang paling sering ditemui adalah
gangguan transisi tidur-bangun (Haryono et al., 2009). Natalita dkk
melaporkan bahwa berdasarkan pemeriksaan wrist actigraphy didapatkan
rerata waktu subjek tidur adalah pukul 22:12 WIB dan waktu bangun pukul
05:55 WIB, sehingga total waktu tidur 6 jam 47 menit (Natalita et al., 2011).
Pola tidur yang buruk pada anak-anak akan menyebabkan prestasi
sekolah yang rendah, hiperaktif, kecemasan, depresi, gangguan tingkah laku
dan emosi (Meltzer et al., 2010). Periode kurang tidur dapat menyebabkan
menurunnya kemampuan berkonsentrasi, membuat keputusan dan
berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari. Kurang tidur dalam waktu lama
kadang-kadang dapat menyebabkan kekacauan ego, halusinasi dan waham
(Kaplan dan Sadock, 2015). Dampak gangguan tidur pada remaja adalah
meningkatkan angka ketidakhadiran di sekolah, mempengaruhi prestasi
akademis, meningkatkan risiko penggunaan alkohol, rokok dan risiko
terjadinya obesitas serta menurunkan daya tahan tubuh (Liu et al., 2010).
Diagnosis gangguan tidur pada remaja sulit ditegakkan, hal ini
dikarenakan gangguan tidur sering tidak disampaikan oleh remaja, selain itu
pada usia remaja pola tidur tidak lagi menjadi pusat perhatian orang tua. Oleh
karena itu gangguan tidur pada remaja sering tidak terdiagnosa dan akhirnya
tidak terobati dengan baik (Haryono et al., 2009).
Baku emas untuk mendiagnosa gangguan tidur adalah
polysomnography (PSG). Alat ini memiliki kekurangan karena mahal,
memerlukan rawat inap dan tenaga ahli untuk menginterpertasikan hasilnya.
Alternatif alat untuk mendiagnosis gangguan tidur adalah wrist actigraphy,
berbentuk seperti jam tangan dan tidak memerlukan tenaga ahli untuk
membaca hasil parameter tidur. Namun alat ini belum tersedia di Indonesia
(Natalita et al., 2011)
Uji tapis gangguan tidur dapat dilakukan dengan berbagai metoda,
salah satunya dengan Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC) yang
dapat mendeteksi adanya enam jenis gangguan tidur pada anak dengan
mengingat pola tidur anak dalam keadaan sehat selama enam bulan terakhir.
Melalui metode SDSC dapat dideteksi gangguan tidur dan jenis gangguan
tidur yang dialami anak usia 6-15 tahun. Metode SDSC sering digunakan
karena prinsip analisis komponen yang kuat, normalitas yang distandarisasi
dan usia yang dipakai sesuai dengan usia subjek yang diteliti (Bruni et al.,
1996).
Data dari Dinas Pendidikan Kota Padang pada tahun 2015-2016
didapatkan bahwa terdapat tiga SMP Negeri peringkat teratas setiap tahunnya
yang sudah menggunakan sistem penilaian terbaru dengan sistem kurikulum,
yaitu SMP Negeri 1 Padang, SMP Negeri 8 Padang dan SMP Negeri 12
Padang. Studi pendahuluan didapatkan dari masing-masing sekolah menengah
pertama, bahwa terdapat kriteria ketuntasan minimal (KKM) tertinggi yaitu
pada SMP Negeri 1 Padang.
Berdasarkan uraian di atas, penulis akan melakukan penelitian
mengenai hubungan gangguan tidur terhadap prestasi akademik pada murid
SMP Negeri 1 Padang.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana prevalensi dan gambaran pola gangguan tidur pada murid
SMP ?
2. Bagaimana gambaran prestasi akademik murid SMP ?
3. Apakah terdapat hubungan antara gangguan tidur terhadap prestasi
akademik murid SMP ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan gangguan tidur yang dialami oleh murid SMP
terhadap prestasi akademik di sekolah.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui prevalensi dan pola gangguan tidur yang dialami murid
SMP.
2. Mengetahui gambaran prestasi akademik murid SMP.
3. Mengetahui dan menganalisis apakah ada hubungan gangguan tidur
terhadap prestasi akademik murid SMP.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bidang Akademik
1. Mengetahui prevalensi dan pola gangguan tidur pada anak remaja
SMP.
2. Mengetahui hubungan antara: usia, jenis kelamin, stress, factor
lingkungan, dan prestasi akademik terhadap gangguan tidur pada
anak remaja SMP.
1.4.2 Bidang Pengembangan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman
mengenai pengaruh gangguan tidur terhadap prestasi akademik anak
remaja di sekolah.
1.4.3 Bidang Pengabdian Masyarakat
1. Dapat memberi gambaran mengenai pola gangguan tidur pada anak
remaja SMP.
2. Skala gangguan tidur SDSC (sleep disturbance scale for children)
diharapkan dapat digunakan oleh tenaga kesehatan sebagai alat
skrining deteksi dini terhadap gangguan tidur yang dialami anak
remaja.
3. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang gangguan tidur
dan pencegahannya.

For This or a Similar Paper Click To Order Now